18 November 2018
Home / Hukum & Kriminal / Pembawa dan pembakar bendera tauhid dihukum 10 hari

Pembawa dan pembakar bendera tauhid dihukum 10 hari


Jakarta (RiauNews.com) – Majelis hakim Pengadilan Negeri Garut, Jawa Barat, memvonis tiga terdakwa pembawa bendera dan pembakar bendera bertuliskan Arab saat peringatan Hari Santri Nasional di Limbangan, Garut, 22 Oktober 2018, dengan kurungan penjara selama 10 hari.

Dalam sidang yang berlangsung Senin (5/11/2018), Majelis Hakim berpendapat ketiga terdakwa telah terbukti dan sah mengganggu ketertiban umum.



Hukuman ini mendapatkan berbagai tanggapan. Pengamat hukum pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar menilai, hukuman terhadap pembawa dan pembakar bendera tauhid sudah cukup adil.

Ia mengatakan, pemberian hukuman tersebut didasarkan pada Pasal 174 KUHP yang hukuman maksimalnya adalah tiga pekan alias 21 hari. “Ketentuan Pasal 174 KUHP ya segitu, maksimal tiga pekan alias 21 hari, jadi 10 hari itu sudah cukup adil,” kata Fickar, Selasa (6/11).

Fickar menjelaskan, hukuman yang dijatuhkan memang hanya terkait perbuatan mengganggu rapat dan bukan membakar bendera. Vonis ini juga terkait dengan proses penyidikan di kepolisian yang menganggap tidak ada unsur pelanggaran pada pembakaran bendera.

Karena itu, hal tersebut tidak termuat dalam dakwaan jaksa. “Membakar bendera sendiri tidak dipertimbangkan oleh penuntut umum karena dianggap tidak ada unsur kesalahannya kata penyidik,” ujar Fickar.

Namun, Fickar melanjutkan, hal terpenting dalam kasus ini, yakni proses dan penghukuman ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua orang. Pelajaran itu, yakni tindakan negatif, seperti mengganggu rapat umum, termasuk membakar bendera, mendapat pengawalan dari hukum. “Bukan hanya hukuman fisik, tapi juga sanksi sosial yang secara politis sangat merugikan siapa pun,” kata dia.

Ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Maarif mengaku kecewa. Bahkan, ia menganggap putusan hakim telah melukai umat Islam. “Kami sangat kecewa, ini vonis abal-abal, dagelan,” kata dia.

Ia juga menganggap putusan tersebut sangat jauh dari tuntutan umat yang telah disampaikan melalui aksi bela tauhid beberapa waktu lalu di depan istana. Ia menilai, hukum berpihak pada penguasa. “Kami akan terus berjuang untuk kibarkan jutaan bendera tauhid panji Rasulullah di negeri ini,” kata dia. ***

Sumber: Republika

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: