KPK pastikan panggil Menpora terkait dugaan korupsi dana hibah

Menpora Imam Nahrawi akan dipanggil KPK terkait dana hibah yang dicurigai dikorupsi. (Kredit: Liputan 6)

Jakarta (RiauNews.com) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan akan memanggil Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. Pemanggilan terhadap Imam penting dilakukan untuk memberikan klarifikasi terkait kasus dugaan korupsi penyaluran bantuan dari Kemenpora kepada KONI tahun anggaran 2018.

“Kalau pemeriksaannya pasti, pasti (diminta) klarifikasi. Pasti diperiksa, itu pasti,” kata Ketua KPK Agus Rahardjo di gedung KPK, Jakarta, Jumat (28/12/2018). Namun, Agus tidak mengungkapkan kapan pemanggilan terhadap Imam. “Tunggu saja,” ujar dia.

Dalam pengembangan kasus itu, KPK telah mengidentifikasi peruntukan dana hibah dari Kemenpora ke KONI tersebut akan digunakan untuk pembiayaan pengawasan dan pendampingan atau wasping. Pembiayaan wasping tersebut mencakup antara lain penyusunan instrumen dan pengelolaan pangkalan data berbasis Android bagi atlet berprestasi dan pelatih berprestasi tahun jamak atau multievent internasional.

Selanjutnya, penyusunan instrumen dan evaluasi hasil pemantauan dan evaluasi atlet berprestasi menuju SEA Games 2019. Terakhir, penyusunan buku-buku pendukung wasping peningkatan prestasi olahraga nasional.

Dalam perkara ini, KPK telah menetapkan lima tersangka antara lain Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy yang diduga sebagai pemberi. Sedangkan diduga sebagai penerima, yakni Deputi IV Kemenpora Mulyana, Adhi Purnomo yang merupakan Pejabat Pembuat Komitmen pada Kemenpora dan kawan-kawan serta Eko Triyanto yang merupakan staf Kemenpora dan kawan-kawan.

Diduga, Adhi Purnomo dan Eko Triyanto menerima pemberian sekurang-kurangnya Rp 318 juta dari pejabat KONI terkait hibah pemerintah kepada KONI melalui Kemenpora. Peneriman tersebut yakni pada April 2018 menerima 1 unit mobil Toyota Fortuner, kemudian Juni 2018 menerima sebesar Rp 300 juta dari Jhony. Pada September 2018 menerima 1 unit smartphone Samsung Galaxy Note 9.

Dana hibah dari Kemenpora untuk KONI yang dialokasikan adalah sebesar Rp 17,9 miliar. Pada tahap awal, diduga KONI mengajukan proposal kepada Kemenpora untuk mendapatkan dana hibah tersebut.

Diduga pengajuan dan penyaluran dana hibah sebagai ‘akal-akalan’ dan tidak didasari kondisi yang sebenarnya. Sebelum proposal diajukan, diduga telah ada kesepakatan antara pihak Kemenpora dan KONI untuk mengalokasikan //fee// sebesar 19,13 persen dari total dana hibah Rp 17,9 miliar, yaitu sejumlah Rp 3,4 miliar.

Kemenpora menjadi kementerian yang kerap ‘berurusan’ dengan KPK. Sebelumnya, para pemangku kepentingan di Kemenpora juga pernah menjadi pesakitan KPK. Pada 2011 lalu, Sekretaris Kemenpora Wafid Muharram ditangkap oleh KPK karena menerima suap dari pihak swasta terkait proyek pembangunan wisma atlet SEA Games 2011 di Palembang. Pada kasus ini, anggota DPR dan swasta juga dinyatakan terlibat.

Berawal dari kasus wisma atlet itu, ternyata terungkap sejumlah pejabat di Kemenpora juga terlibat korupsi. Yaitu, korupsi penggelembungan harga proyek pembangunan Pusat Pelatihan Olahraga di Hambalang, Bogor.

Tak tanggung-tanggung, orang nomor satu di Kemenpora saat itu, Andi Mallarangeng, harus mendekam di penjara akibat kasus tersebut. Selain Andi, ada pejabat Kemenpora lainnya, yaitu Deddy Kusdinar yang juga harus mendekam di jeruji besi akibat kasus korupsinya. Dalam kasus itu, sejumlah anggota DPR seperti Anas Urbaningrum dan pihak swasta juga terbukti terlibat.***

Sumber: Republika

Komentar
%d blogger menyukai ini: