Home / Hukum & Kriminal / Dosen di Medan dituntut setahun penjara karena tagar #2019GantiPresiden

Dosen di Medan dituntut setahun penjara karena tagar #2019GantiPresiden

Himma Dewiyana Lubis, dosen Universitas Sumatera Utara yang diperkarakan gara-gara tagar #2019GantiPresiden. (Foto: Viva)

Medan (RiauNews.com) – Jaksa penuntut umum pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara menuntut Himma Dewiyana Lubis, dosen Universitas Sumatera Utara, dengan hukuman penjara selama setahun. Jaksa menganggap wanita berusia 45 tahun itu bersalah menyebarkan berita hoax di media sosial.

Jaksa Tiorida Juliana Hutagaol menganggap Himma melanggar Undang Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan diwajibkan membayar denda sebesar Rp10 juta subsider 3 bulan kurungan. Jaksa menilai Himma terbukti menimbulkan rasa kebencian dari unggahan yang dibuatnya, sebagaimana tuntutan yang dibacakan dalam sidang di Pengadilan Negeri Medan Senin (22/4/2019).

Baca: Dukung Jokowi, Wanda Hamidah minta gerakan #2019GantiPresiden dibubarkan

Terdakwa terbukti bersalah diancam pidana melanggar Pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 45A ayat (2) Undang Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Menimbulkan rasa kebencian terhadap suku dan agama.

Usai sidang, Tim Bantuan Hukum Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Medan, Rina Melati Sitompul, menyebutkan bahwa tuntutan itu berlebihan bagi kliennya.

“Kalau kita melihat agak berlebihan yang didakwakan itu tidak ada korbannya. Di sini pelapornya polisi. Siapa di sini yang dikategorikan dirugikan; siapa yang ditimbulkan kebencian. Pihak mana, suku mana, agama mana, yang kita temukan,” ujarnya.

Baca: Tak setuju gerakan #2019GantiPresiden, Pemuda Pancasila ancam segel Bandara SSK II

Sidang ditunda hingga sepekan mendatang untuk mendengarkan nota pembelaan dari Terdakwa. Dalam dakwaan disebutkan, Himma ditangkap setelah menulis kalimat di Facebooknya “Skenario pengalihan yang sempurna #2019GantiPresiden” dan “Ini dia pemicunya Sodara, Kitab Al-Quran dibuang”.

Kalimat-kalimat itu ditulis di rumah Himma di Kompleks Johor Permai, Gedung Johor, Medan Johor, Medan. Terdakwa membuat dan mengetik status itu menggunakan ponsel iPhone 6S silver. Terdakwa mengaku tidak ada orang lain yang menyuruhnya untuk membuat unggahan itu.

Dalam dakwaan itu disebutkan bahwa terdakwa membuat tulisan di akun Facebook Himma Dewiyana karena merasa kesal, jengkel, dan sakit hati atas kepemimpinan Joko Widodo sebagai Presiden. Di era Jokowi, Himma merasa harga kebutuhan pokok, tarif listrik, dan semua keperluan/kebutuhan sehari-hari naik.

Baca: Gerakan #2019GantiPresiden Kerap Dipersekusi, Kenapa?

“Padahal terdakwa Himma sebelumnya sangat mengagung-agungkan Jokowi sebelum menjadi Presiden RI. Sebab janji-janji Presiden Jokowi pada saat kampanye pemilihan Presiden RI tahun 2014 sangat mendukung terdakwa dalam kehidupan sehari-hari,” kata jaksa Tiorida saat pembacaan dakwaan pada Januari 2019.

Tulisan Himma lantas viral di media sosial dan akhirnya sampai ke aparat Direktorat Kriminal Khusus Polda Sumut pada Mei 2018. Penyelidikan dilakukan, Himma pun ditahan.***[VIVA]

Komentar
%d blogger menyukai ini: