Home / Hiburan / Entertainment / Ini alasan Jack dimatikan pada film Titanic

Ini alasan Jack dimatikan pada film Titanic

Adegan di penghujung film Titanic di mana Jack akhirnya tewas di air laut yang dingin.

Pekanbaru (RiauNews.com) – Bagi generasi 90-an, tentu tak asing dengan film Titanic, yang mengisahkan kisah cinta Jack (Leonardo DiCaprio) dengan Rose (Kate Winslate) yang berakhir tragis, seiring tenggelamnya kapal pesiar mewah yang mereka tumpangi.

Meski sudah 20 tahun sejak fim tersebut ditayangkan di layar bioskop, namin masih ada beberapa penggemar Titanic yang membahas kemungkinan Jack bisa bertahan andai Rose memberikan ruang di daun pintu yang jadi pelampungnya di penghujung film.

Terkait hal itu, sang sutradara James Cameron, punya penjelasan untuk itu, yang tidak ada sangkut pautnya dengan fisika, tapi lebih berhubungan dengan seni.

“Jika Jack hidup, akhir filmnya tak akan berarti,” katanya dalam wawancara dengan Vanity Fair.

“Film ini bercerita tentang kematian dan perpisahan, dia harus mati.”

Cameron melanjutkan, “Jawabannya sangat sederhana karena tertulis di (skenario) halaman 147 bahwa Jack meninggal.”

Salah satu adegan yang menjadi ikonik di film Titanic.

“Sangat sederhana… Tentu saja itu adalah pilihan artistik, benda yang cukup besar untuk menyelamatkan dia (Rose) dan tidak cukup luas untuk menampungnya (Jack)… Saya kira agak konyol bahwa kita masih mendiskusikannya 20 tahun kemudian. Tapi ini menunjukkan bahwa film in berhasil membuat Jack dicintai penonton sampai mereka merasa pedih melihatnya mati.”

Cameron juga mengatakan bahwa entah Jack, yang diperankan oleh Leonardo DiCaprio, meninggal di dalam air atau kecelakaan tragis lainnya, tidak ada kemungkinan dia akan berakhir bahagia dengan Rose, yang diperankan oleh Kate Winslet, di film itu.

“Apakah karena itu, atau cerobong asap jatuh, dia akan mati. Itu yang disebut seni, hal-hal yang terjadi untuk alasan artistik, bukan alasan fisika,” kata si pembuat film.

Ketika didesak lebih lanjut mengenai kemungkinan fisika dari situasi itu, Cameron mengatakan dia skenarionya sangat masuk akal dan akurat berkenaan dengan hal itu.

“Saya berada di air dengan sepotong kayu, kalau menempatkan orang pada kayu itu selama dua hari, akan cukup untuk mendukung satu orang, artinya bahwa dia tidak akan tenggelam sama sekali pada air dengan suhu 28 derajat sehingga dia bisa bertahan selama tiga jam yang dibutuhkan sampai kapal penyelamat datang ke sana,” katanya.*** (antara)

Baca Juga

Terkait protes terhadap DWP, Bimbim Slank: kasih mereka tiket untuk tahu yang sebenarnya

Jakarta (RiauNews.com) – Penolakan oleh sejumlah pihak atas pagelaran acara musik yang bertajuk Djakarta Warehouse ...

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: