11 Desember 2018
Home / Featured / Sang ibu ikat anaknya karena ‘sayang’

Sang ibu ikat anaknya karena ‘sayang’

Susilawati dan anaknya saat diamankan Satpol PP Kota Padang. (Kredit: Okezone)

Padang (RiauNews.com) – “Biarkan saja anak saya berjalan sendiri. Jangan ditarik-tarik begitu!” Susilawati (48 tahun) menirukan teriakan yang ia lontarkan kepada petugas Satpol PP pada Jumat (9/11) lalu. Saat itu, petugas membawa dirinya dan anaknya, RS (12 tahun), ke markas Satpol PP Kota Padang untuk diamankan dan dimintai keterangan.

Tanpa babibu, aparat berseragam coklat-coklat langsung mengerubungi keduanya di sudut Ruang Terbuka Hijau (RTH) Imam Bonjol, masih satu kompleks dengan Pasar Raya Padang. Bagi Susilawati, pagi itu dia merasa seperti pelaku kriminal yang menimbun dosa besar. Ia diringkus, digiring, dan diinterogasi.



“Petugas kasar sekali membawa kami. Kasihan anak saya,” katanya lagi.

Sebetulnya Susilawati tak heran dirinya digelandang ke markas Satpol PP. Beberapa hari sebelumnya, kisah tentang anaknya mendadak viral di media sosial. Pemberitaan media juga masif bermunculan tentang anaknya yang diikat di sebuah pohon di RTH Imam Bonjol.

Foto-foto yang menunjukkan sebuah tali melingkari perut anaknya, RS, juga tampil di media massa. Judul-judul berita juga mengiaskan ‘ibu tega mengikat anak kandungnya’. Opini masyarakat pun mengerucut pada satu penghakiman: sang ibu salah besar karena tega mengikat anaknya sendiri di sebuah pohon. Padahal Susilawati belum bersuara.

Susilawati mengaku sedih dengan pemberitaan yang berseliweran, termasuk dengan pandangan pedagang dan pejalan kaki di kawasan Pasar Raya makin sinis terhadap dirinya. Ia bahkan sempat menutup diri, hingga akhirnya aparat Satpol PP membawa dirinya dan RS untuk diamankan.

“Saya sedih melihat anak saya sendiri difoto dalam kondisi terikat seolah seperti hewan yang diikat. Padahal mereka tak tau apa yang saya alami. Mereka tak paham bahwa anak ini saya ikat demi keselamatan dia, saya sayang dia,” jelas Susilawati, ditemui di sudut RTH Imam Bonjol, tempat dirinya dan anaknya biasa beristirahat, Selasa (20/11).

Perempuan yang sehari-hari berjualan rokok eceran kepada sopir angkutan kota (angkot) di Pasar Raya Padang itu bahkan sempat tak beraktivitas selama dua hari setelah sempat dibawa ke markas Satpol PP. Ia merasa dihakimi atas pilihannya untuk merawat anaknya sendiri, dengan ‘cara’ yang ia yakini terbaik.

Barangkali bagi orang lain cara dia mengikat RS di pohon merupakan sebuah kejahatan. Namun bagi Susilawati hal itu adalah satu-satunya cara yang ia punya untuk tetap mampu menjaga dan merawat RS yang mengalami keterbatasan perkembangan mental.

Komentar
%d blogger menyukai ini: