22 September 2018
Home / Featured / Menggiurkannya budidaya pepaya merah delima

Menggiurkannya budidaya pepaya merah delima

Hasil panen pepaya merah delima yang di tanam warga di lahan milik UIN. (Kredit: Istimewa)

Riaunews.com – Matahari pagi mulai menyilauan, dua orang pekerja laki-laki tampak sedang memetik pepaya merah delima di kebun seluas 1 ha, sedangkan dua orang perempuan sibuk membersihkan dan membungkus buah pepaya menggunakan koran.

“Tanaman pepaya merah delima ini telah berumur 2,5 tahun dan dipanen setiap 3 hari sekali,” terang Hendri Toni, petani pemilik tanaman pepaya yang menggarap lahan milik Universitas Islam Riau (UIR).

“Sekali panen menghasilkan 600 – 1000 kg, dengan waktu panen 3 hari sekali. Harga jual ke pegadang Rp 3.000,-/kg,” lanjutnya.

Dengan demikian Toni meraup penghasilan kotor 18-30 juta per bulan, ini belum dipotong upah pekerja dan lain-lain.

“Kendala dalam budidaya adalah ketersediaan air pada musim kemarau, sedangkan masalah lainnya dapat diatasi berkat bimbingan dari BPTP Riau” ujarnya.

Pepaya merah delima merupakan produk yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Warna daging buahnya merah oranye, daging buah tebal (> 3 cm), rasa sangat manis (TSS :11-14◦ Brix), produktivitas di atas 70 ton/ha, dan ukuran buah sedang dengan bobot rata-rata 1,2 kg/buah.

Tanaman ini dapat ditanam di semua daerah di Indonesia dan tumbuh subur menyebar dari dataran rendah sampai tinggi, yaitu sampai 1000 m dpl.

Pendampingan budidaya pepaya Merah Delima oleh BPTP Riau sejak tahun 2016. Nasri Joni, teknisi BPTP Riau dengan intens mendampingi budidaya pepaya Merah Delima mulai dari panen hingga pemasaran.

“Sebelum tanam, dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu, kemudian dibuat lubang tanam. Pemberian pupuk kandang 5 kg per lubang. Disamping itu juga diberikan kapur dolomit. Jarak tanam yang digunakan adalah 2,5 x 2,5 m. Setelah dibiarkan 1 bulan, dilakukan pengadukan tanah dan penanaman benih papaya yang sudah terlebih dahulu disemai di polybag,” terang Nasri Joni menjelaskan cara budidaya pepaya ini.

“Pemupukan dilakukan h 15 hari setelah tanam (hst) yaitu pupuk KCl 100 gr, ZA 150 gr, TSP 100 gr per batang. 2 bulan kemudian dosisnya dinaikkan yaitu KCl 150 gr, ZA 150 gr, TSP 150 gr per batang. Pada bulan ke-3 diberikan pupuk kandang 5 kg per batang. Kemudian setiap bulan selang seling pupuk kimia (KCl 250 gr, ZA 250 gr, TSP 250 gr) dan pupuk kandang 8 kg/ batang,” terangnya.

Lebih lanjut Nasri menyampaikan untuk mencegah serangan hama dan penyakit, semprotkan insektisida dan pestisida seminggu sekali setelah tanaman berumur 2 bulan. Merah delima belajar berbunga pada umur 2,5 – 3 bulan setelah tanam (BST).

Menurut Toni, pemasaran pepaya ini sangat mudah karena pedagang langsung datang ke lokasi kebun. Bahkan ia kewalahan memenuhi permintaan pasar.

“Permintaan untuk pasar Batam delapan ton per minggu, sedangkan pasar Pekanbaru dan sekitarnya 10 ton/minggu, itu belum bisa kami penuhi,” ungkap Toni.

Untuk memenuhi permintaan pasar, Toni sekarang menambah 2 ha lagi kebun pepaya yang saat ini sudah mulai berbuah.

Ditempat terpisah, Nana Sutrisna, Kepala BPTP Riau mengatakan bahwa pepaya Merah Delima dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik di lahan rawa pasang surut. Pengembangan agribisnis pepaya mempunyai prospek bisnis yang sangat baik dan pasarnya masih terbuka luas.

Kontributor: Fahroji STP

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: