18 Oktober 2018
Home / Featured / Kisah Agung, personel ATC Bandara Sis Al-Jufrie yang korbankan nyawanya demi keselamatan penumpang Batik Air

Kisah Agung, personel ATC Bandara Sis Al-Jufrie yang korbankan nyawanya demi keselamatan penumpang Batik Air

Anthonius Gunawan Agung, petugas air traffic controller (ATC) Bandara Mutiara Sis Al-Jufrie Palu, yang tewas karena meloncat dari menara usai memandu pesawat Batik Air.

Palu (RiauNews.com) – Demi keselamatan ratusan penumpang, seorang personel air traffic controller (ATC) bernama Anthonius Gunawan Agung rela membahayakan nyawanya. Lelaki yang biasa disapa Agung itu bertahan di dalam gedung yang bisa saja menimbunnya bersama reruntuhan saat gempa berskala 7,7 skala Richter (SR) mengguncang Palu.

Saat itu, sebuah pesawat Maskapai Batik Air ID 6231 akan lepas landas dari Bandara Sis Al-Jufrie, Palu. Saat akan lepas landas, gempa hebat menghentak dan menggetarkan semua dinding di sekitarnya.



Agung sedang berada di dalam Tower ATC AirNav Indonesia Cabang Palu, Bandara Mutiara Sis Al-Jufrie. Agung adalah orang yang memberikan pesawat Batik Air ID 6231 yang akan terbang dari Palu menuju Makassar.

Agung jugalah yang telah memberikan clearance atau izin untuk lepas landas berikut dengan semua informasi penerbangan kepada Batik saat gempa terjadi. Bahkan ia tetap dalam gedung dan di depan alat komunikasinya untuk memastikan semua roda pesawat sudah tidak menyentuh landasan pacu serta sudah dalam kondisi terbang penuh.

Ia tak menghiraukan getaran gempa yang membuat semua benda di sekelilingnya jatuh dan pecah. Sejatinya, gempa sudah mengguncang Palu saat pesawat Batik tersebut belum lepas landas, Agung bisa saja meninggalkan tempat kerjanya. Namun, keselamatan penumpang pesawat lebih diutamakannya.

Sebagai personel ATC, Agung bertanggung jawab menjadi pemandu lalu lintas udara. Ia memastikan pesawat udara tersebut lolos dari rintangan yang ada di sekitarnya, termasuk gempa yang mengguncang Bandara.

Agung membantu pilot dalam mengendalikan keadaan darurat, memberikan informasi yang dibutuhkan pilot, mulai dari informasi cuaca, informasi navigasi penerbangan, dan informasi lalu lintas udara. Sementara gempa makin kuat menggetarkan kabin tempat ia berkomunikasi dengan pilot.

Semua aktivitas pesawat di dalam Manoeuvring Area diharuskan mendapat mandat terlebih dahulu dari ATC, yang kemudian ATC akan memberikan informasi, instruksi, clearance kepada pilot sehingga penerbangan selamat.

Agung bertahan dalam keadaan yang sangat mengancam nyawanya, demi para penumpang mengudara dan meninggalkan Palu yang sedang porak peranda oleh gempa.

Direktur Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan (Perum LPPNPI) atau AirNav Indonesia, Novie Riyanto, menyebut personel AirNav lainnya yang tidak sedang melayani penerbangan turun saat gempa terjadi.

”Beliau menunggu pesawat Batik hingga airborne. Setelah pesawat airborne, kondisi gempa sudah semakin kuat. Beliau akhirnya memutuskan melompat dari cabin tower atau lantai 4, akibatnya beliau mengalami patah kaki,” kata Novie kepada Wartawan, Sabtu (29/9).

Setelah gempa berhenti sesaat, personel AirNav yang sebelumnya menyelamatkan diri, mencari Agung. Namun sayang, mereka mendapati Agung dalam keadaan cedera serius.

Agung dengan kaki yang patah dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Di rumah sakit didapati keterangan mengenai kondisi luka Agung sangat parah. Ia butuh penanganan segera, terlebih setelah keluar hasil rontgen.

Rumah sakit setempat tak mampu menangani luka Agung. Ia harus dirujuk segera ke rumah sakit yang lebih besar karena diindikasi ada luka dalam.

AirNav berupaya untuk mendatangkan helikopter dari Balikpapan. Namun karena kondisi bandara, helikopter baru dapat diterbangkan Sabtu (29/9) pagi.

Agung kemudian dibawa ke bandara untuk diterbangkan dengan helikopter menuju Balikpapan. Namun, sebelum helikopter tiba, Agung mengembuskan napas terakhirnya.

Helikopter yang seharusnya membawa Agung ke rumah sakit, malah digunakan untuk mengantarnya menuju liang lahat. “Mendiang akan diterbangkan menuju Makassar untuk selanjutnya dimakamkan di Makassar sesuai dengan permintaan pihak keluarga,” jelas Novie.

Airnav, kata Novie, akan menaikkan dua pangkat Agung. Selain itu, penghormatan dan apresiasi yang luar biasa terhadap dedikasi yang ditunjukkannya.

Novie menyatakan, keluarga besar Airnav Indonesia sangat berduka cita. Agung membuat keluarga besar AirNav mengerti bagaimana sebuah kata “pelayanan” untuk mewujudkan keselamatan penerbangan.***

Sumber: Republika

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: