18 Oktober 2018
Home / Featured / Kemenangan Khabib dan ketidaksetaraan atas Muslim

Kemenangan Khabib dan ketidaksetaraan atas Muslim

Selebrasi Khabib Nurmagomedov usai mengkanvaskan conor McGregor.

Kemenangan telak Khabib Nurmagomedov atas Conor McGregor di Ring Oktagon MMA pada 6 Oktober 2018 menjadi tontonan yang sangat viral di dunia maya. Nama Khabib yang sebelumnya masih asing bagi sebagian rakyat Indonesia spontan melejit. Kiprahnya mewarnai beragam berita dan media sosial.

Akun Instagram Khabib yang sebelumnya memiliki 7 juta followers, dalam sehari bertambah 3 juta pengikut. Selanjutnya, bertambah 500 ribu setiap hari. Sampai tulisan ini dibuat, akun resmi Khabib sudah memiliki 12.040.129 followers!



Ada tiga hal yang membuat pertandingan tersebut viral. Pertama, pertandingan itu sendiri merupakan salah satu laga yang paling ditunggu. Kedua atlet sama-sama punya kans untuk menang. Khabib, yang berdarah Rusia, sangat hebat bermain di bawah dengan kuncian.

Sedangkan rivalnya, Conor dari Irlandia, dikenal amat piawai dengan pukulannya. Bahkan, pernah pula lelaki bertato itu sesumbar mengatakan tangan kirinya bukan untuk manusia. Intinya siapa pun yang kena tangan kirinya pasti jatuh. Kedua, sejarah sebelum pertandingan juga menjaring daya pikat yang membuat pertandingan mereka sedemkian ditunggu.

Sebagai petarung pemula UFC, prestasi Khabib di awal karier melejit bagai meteor. Sampai belasan kali pertandingan dilakukan, ia tidak pernah mengalami kekalahan.

Akan tetapi, meski prestasinya sedemikian menonjol, Khabib tidak kunjung mendapat kesempatan untuk bertanding melawan sang juara bertahan Conor McGregor yang saat itu merupakan bintang UFC paling bersinar.

Khabib tidak mengerti mengapa ia tidak juga dihadapkan dengan pemegang titel juara, padahal tidak ada lawan lain yang sanggup menandinginya. Pria asal Dagestan, Rusia, ini menduga, kemuslimannyalah yang membuat kariernya seolah sengaja dihambat. Memang sejak awal kiprahnya, Khabib selalu menunjukkan identitas keislamannya dalam berbagai kesempatan.

Angin segar bertiup ketika Conor McGregor berada dalam satu ring melawan Floyd Mayweather, petinju dengan bayaran termahal yang tidak pernah terkalahkan. Connor saat itu mendapatkan bayaran 30 juta dolar atau sekitar Rp 450 miliar. Sekalipun kalah dalam pertandingan, uang milik petarung kelas dunia itu kini melimpah ruah.

Sang petarung pun memasuki ranah bisnis. Merintis usaha serta mulai menolak berbagai jadwal pertandingan untuk mempertahankan gelar hingga gelarnya dicabut dan diperebutkan antara peringkat kedua dan penantangnya.

Terbuka jalan bagi Khabib yang sejak kecil berlatih gulat dengan beruang untuk berkesempatan meraih gelar juara. Namun, meski Khabib kemudian berhasil menyabet titel juara tersebut, masih terdapat pihak yang mempertanyakan keabsahannya.

Persoalannya, Khabib tidak merebut sabuk juaranya langsung dari the Notorious alias Conor. Kejagoannya belum terbukti, tidak di mata pencinta olahraga tersebut.

Kenyataan itu menjadi bahan olok-olok, khususnya dari kubu teman-teman Conor. Sikapnya dibalas Khabib dengan menepak kepala seorang pengoloknya.

Kejadian ini sampai ke telinga Conor, yang tidak menerima dan membuat pembalasan drastis dengan menyerang bus yang dikendarai Khabib dan timnya. Momen tersebut memulai jejak persaingan di luar ring, antara Khabib dan Conor, sebelum keduanya akhirnya dipertemukan di ring.

Walau tanggal pertandingan telah ditentukan, dalam setiap kesempatan, Conor selalu memanfaatkannya untuk mengucapkan kata-kata hinaan kepada Khabib. Tepat sebagaimana julukannya, the Notorious: orang yang terkenal dengan keburukan atau tindakan tidak bermoral.

Ia menyebut ayah Khabib sebagai teroris. Ucapan salam dalam Islam dijadikan lelucon. Ia bahkan dengan sengaja menawarkan Khabib minuman keras, padahal sebenarnya tahu menenggak alkohol dilarang dalam Islam. Menghadapi semua perlakuan tidak baik tersebut, Khabib hanya tersenyum dan tampak fokus pada pertandingan 6 Oktober 2018.

Ajang yang dinanti banyak mata itu pun tiba. Begitu pertandingan dimulai dominasi Khabib di dalam ring persegi delapan yang dikeliligi pagar besi langsung membantah keraguan sebagian besar penggemar UFC.

Hanya empat ronde dibutuhkan sebelum Conor McGregor menyerah tanpa perlawanan berarti. Seandainya kemenangan Khabib berakhir di sini, mungkin semua orang akan kagum dan terpesona.

Dengan professional record 27-0 akan sulit menyaingi Khabib di MMA atau mixed martial arts.

Sayangnya, gerakan Khabib setelah dinyatakan menang menimbulkan kegemparan sekaligus menyebabkan pertandingan Khabib vs Connor semakin viral. Bagai singa liar, sang pemenang melompati ring dan menyerang salah satu tim Conor. Akibat tindakan tersebut, Khabib terancam mendapatkan hukuman.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa sosok sabarnya mendadak beringas dan kehilangan kontrol?

Dalam konferensi pers setelahnya, dengan gagah Khabib sendiri mengakui, tindakannya menyerang orang bukan sisi terbaik dari dirinya. Namun, ia menegaskan bukan dirinya yang memulai. Sikapnya murni merupakan reaksi, respons atas perilaku salah satu dari tim Conor yang selama ini telah sedemikian keterlaluan melecehkan diri Khabib, agama, dan bangsanya.

Tetap saja tidak bisa dibenarkan. Mungkin sebagian akan bersikeras begitu. Saya pribadi pun menyayangkan, tapi mencoba memahami kejadian ini dari sisi lain. Meledaknya Khabib bisa jadi merupakan salah satu akumulasi emosi atas ketidakadilan yang ditujukan pada umat Islam, dan sepanjang sejarah telah dialami oleh olahragawan Muslim di berbagai lapangan.

Muhammad Ali pernah menampar petinju lawan dalam jumpa pers sebelum pertandingan. Sang lawan memanggilnya Cassius Clay nama asli Ali ketika lahir. Tindakan, yang bagi Ali, sama saja tidak menghargai nama barunya, pilihan baru, yang menunjukkan keyakinannya pada Muhammad SAW serta agama yang dibawanya.

Zinedine Zidane menanduk Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006. Tidak ada manusia yang bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi kecuali Zidane sendiri. Akan tetapi, dari analisis pembaca bibir dan pengamat, diperoleh kesimpulan bahwa Materazzi menghina keluarga, keturunan, atau agama Zidane–sebagai agama teroris.

Bahkan, reaksi Khabib pun masih jauh lebih ringan bila dibandingkan aksi Eric Cantona, legenda MU yang berani melompat dan menendang suporter lawan.

Bagaimanapun, tindakan Khabib tidak bisa dibenarkan. Akan tetapi, jika ada konsekuensi yang harus ditanggung sang petarung, Conor serta timnya harus pula menanggung lebih banyak. Karena mereka yang memulai, memancing, dan membuat keruh suasana.

Akan halnya Khabib, sang juara telah mengakui dan meminta maaf.

Semoga ke depan sosoknya juga banyak atlet Muslim semakin tertempa kesabarannya. Keputusan untuk secara terbuka menegaskan status mereka sebagai muslim akan menuai onak dan duri. Namun, jika berhasil dilalui, niscaya menguatkan tidak hanya pribadi mereka, melainkan seluruh umat di belahan manapun.

“Religion is number one for me. Sport is not number one. The most important thing is you stay connected with God,” ujar sang juara dalam satu kesempatan.

Agama nomor satu, baginya, bukan olahraga. Dan hal terpenting adalah bagaimana kita tetap terhubung dengan Allah.

Sebagai penikmat dan pengamat dari jauh, tentu tempat kita mengambil sebanyak mungkin hikmah dan pelajaran. Termasuk merujuk lagi makna orang kuat sebagaimana yang dipesankan Rasulullah SAW.

“Orang kuat itu bukanlah orang yang jago bergulat. Akan tetapi, orang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” ***

(Muttafaq Alaihi/Republika)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: