|
Bomming Sawit Ancam Karet
|
|
10 Maret 2010 - 17.27 WIB Pekanbaru (RiauNews). Karet tanaman yang bisa dikatakan endemik Riau kini terancam keberadaanya oleh tanaman kelapa sawit. Masyarakat Riau lebih menggandrungi kelapa sawit ketimbang karet. Alasannya cukup sederhana, kelapa sawit lebih memiliki nilai ekonomis ketimbang karet.
Anggota komisi B DPRD Riau, Azmi Setiadi merasa kawatir dengan kondisi ini, ia menilai lambat lauan jika tidak diantisipasi bisa menyebabkan tanaman karet ini punah di Riau, dikarenakan persepsi masyarakat terhadap sawit yang lebih menguntungkan.
''Dulu zaman nenek moyang saya, karet inilah yang menjadi tanaman yang bernilai ekonomis, namun sekarang karet ditebang diganti dengan sawit, lama kelamaan karet ini bisa habis di Riau,'' ujarnya kepada Kadisbun Riau M Yafis saat hering dengan komisi B, Selasa (9/3) diruang rapat komisi B DPRD Riau.
Azmi berpendapat Disbun seharusnya bisa merubah pandangan masyarakat petani untuk tidak terfokus kepada kelapa sawit, salah satunya dengan memberikan dana refitalisasi perkebunan karet.'' Ini yang mestinya dilakukan oleh Disbun agar para petani karet tetap mempertahankan karet. Ini malah memberikan dana pinjaman replanting kepada kebun kelapa sawit, kondisi inilah yang merubah pola pikir masyarakat,'' ucapnya.
Kampar merupakan salah satu wilayah di Riau yang dulunya memiliki tanaman karet yang luas, namun saat ini kebun tersebut banyak yang dialihkan menjadi tanaman kelapa sawit. Salah satu penyebabnya karena tidak adanya dorongan dari pemerintah.'' Saya minta Disbun untuk dapat memperhatian,'' pintanya.
Kadisbun M Yafis mengakui kebun karet pertumbuhannya di Riau negatif termasuk juga tanaman pangan, alih fungsi lahan dari kebun karte ke sawit cukup luarbiasa. "Kondisi ini bisa disikapi melalui izin. Izin untuk kebun kelapa sawit mesti dibatasi," katanya
Selain itu mesti ada regulasi yang mengaturnya, paling tidak Peraturan Menteri. Yafis membantah Disbun kurang perhatian dengan tanaman karet. Hal ini ditunjukkan dengan program Disbun yang tengah menggalakkan tanaman karet dan kakao. " Kita ada program stimulan untuk tanaman karet, cuman belum cukup. Untuk menggalakkan tanaman karet mesti ada perangsang bagi petani sehingga mereka bergairah bertanam karet," imbuhnya. (tien)
© Riaunews.com Hak Cipta Dilindungi Undang-undang.
Mengambil, mengutip, memperbanyak dan atau mempublikasi ulang seluruh tulisan yang terdapat di situs ini, HARUS mencantumkan sumbernya : RiauNews.com. Pelanggaran terhadap ketentuan ini, bilamana cukup bukti akan kami tuntut sesuai undang-undang yang berlaku.
Berita Ekonomi & Bisnis Lainnya
 
|
|
|
|
|
 |
Oleh: Irwan E Siregar
Boleh jadi sebentar lagi KPK akan berganti nama menjadi KPKR atau Komisi Pemberantasan Korupsi Riau. ....
|
|
|