Masih Adakah Nurani Mereka?
Carut-marut ekonomi masyarakat terkesan tidak signifikan dengan ekonomi penguasa daerah yang sudah cukup berlebihan jika dibandingakan dengan ukuran pendapatan yang seharusnya mereka terima (gaji, red). Katanya masyarakat Riau miskin dengan APBD Rp. 4 T lebih. Namun jika ditanya berapa banyak dana sebesar itu diprioritaskan untuk mengangkat keterpurukan masyarakat miskin, belum ada kata pasti mampu menjelaskannya. Atau mungkin saja ada semacam fenomena, meskipun APBD besar tetapi tidak menjamin masyarakatnya sejahtera.
Bukan itu saja, Pasca kenaikan BBM, masyarakat miskin kembali berteriak dan menjerit terhimpit kondisi ekonomi akibat efek domina yang ditimbulkannya. Sebut saja kenaiakan harga kebutuhan pokok. Dari satu sisi kondisi tersebut menjadikan masyarakat miskin semakin panik dan terpaksa harus hidup dibawah keprihatinan.
Pernahkah terfikir oleh anggota dewan kita untuk turut prihatin terhadap kenyataan masyarakat miskin di negeri ini? Mereka justru merefleksikannya dengan melakukan pelancongan ke Polandia beralasan studi banding seperti yang pernah dilakukan sebelumnya kenegara-negara lain. Jika itu alasannya, perlu dipertanyakan kembali apakah mereka pernahkah mempublikasikan hasil nyata yang dapat di implementasikan untuk negeri ini dari perjalanan muhibah tersebut?.
Sungguh ironis dan sangat kontradiksi bila mereka bersikap masa bodoh dengan rakyat yang sedang sengsara sementara mereka dengan gampangnya melenggangkan kaki ”pelesir” menggunakan uang rakyat ke luar negeri meskipun sudah menuai protes dari berbagai pihak.
Seandainya masih ada tersisa hati nurani, tentu saja moralitas akan mereka kedepankan sehingga wujud keberpihakan terhadap rakyat akan semakin nyata sebagai pelayan masyarkat dan wakil rakyat seperti komitmen yang mereka sebut-sebut saat kampanye dulu.
Namun kenyataan berkata lain. Tanpa malu mereka tetap berangkat melancong ke Polondia, walau berbagai kritikan pedas dan desakan untuk tidak berangkat menggema demi memperjuangkan kesenangan meraka. Sungguh suatu perbuatan yang memalukan dan memuakkan, sementara nasib masyarakat miskin yang hidupnya ”Senin-Kamis” luput dari pantauan serta perhatian meraka
Menurut salah seorang anggota DPRD Riau, Helmi Burman, keberangkatan mereka sudah mendapat izin dan proses sudah ada (Riau Pos, 29/5), Jika ditunda atau dibatalkan maka akan terjadi kerugian, sebab pihak travel yang mengurus transportasi sudah dibayar.
Demi kepentingan Rakyat, seharusnya mereka membatalkannya jika tidak ingin mendapat sorotan tajam dan berterima kasih serta bersyukur atas apa yang mereka dapatkan. Jangan memandang hal tersebut dengan prinsip ”aji mumpung”, kalau hal itu yang terjadi, meraka tidak pantas dikatakan wakil rakyat. Lebih tepat ”wakil penyiksa dan penyengsara masyarakat”
Masih butuhkah hati nurni untuk bicara dengan kepahaman yang tak ternodai oleh nafsu apapun, atau perlukah dimatikan? Sehingga suara Tuhan (suara masyarakat menurut Socrates) tidak perlu didengar. Banyak yang perlu dikedepankan dengan hati nurani dan kearifan ilahiah, sehinggga tidak memadang suatu persoalan hanya menurut ukuran nafsu dan ketamakan
Ingatlah janji yang telah disampaikan saat kampanye, hal itu belum teralisir. kehidupan masyarakat tetap tidak berobah. Sementara mereka mempertontonkan perubahan yang terjadi sebelumnya tidak mereka dapatkan. Yang lebih menyakitkan bahwa mereka tidak kenal lagi dengan massa pemilihnya. Padahal apa yang meraka dapatkan sekarang adalah karena masyarakat.
Masyarakat sangat membutuhkan wakil yang lebih mengedepankan hati nurani dibandingkan naluri egosentrik. Bicaralah dengan hati nurani yang dipenuhi keilahiaan dan kebenaran,
Banyak masyarakat yang menjerit dengan napas yang tesengal-sengal, jangan tunggu mereka menagis dengan air mata darah, ingat kalau mereka berdoa akan terkabulkan, karena doa orang teraniaya di-ijabah.
Yakinkanlah bahwa pekerjaan akan dipertanggung jawabkan diakherat kelak, baik dan buruk akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang dibuat, semoga elit dipemerintahan dapat berpikir dan berbuat sesuai hati nurani dengan kefasihan dan kearifan sosial. Semoga.*** (Abrar)
|